Bahasa ini digunakan
untuk menyatukan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Hal ini dikarenakan
bangsa Indonesia sendiri terdiri dari berbagai macam suku bangsa yang setiap
suku tersebut memiliki bahasa daerah masing-masing. Oleh karena itu, salah satu
upaya untuk menyatukan bahasa-bahasa tersebut ialah melalui bahasa Indonesia
Berbagai macam fungsi
bahasa Indonesia, salah satunya yang telah disebutkan di atas yaitu sebagai
pemersatu bangsa. Selain itu ada beberapa fungsi bahasa Indonesia, salah
satunya yaitu sebagai bahasa baku dalam penulisan karya ilmiah. Penulisan karya
ilmiah dianjurkan untuk menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Namun
juga perlu diketahui, penulisan karya ilmiah tingkat internsional harus
menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa internasional. Meskipun demikian,
karya ilmiah tersebut hendaknya juga ditulis dalam bahasa Indonesia agar anak
negeri juga dapat mempelajari karya tersebut. Masih banyak lagi fungsi dari bahasa Indonesia, seperti menumbuhkan sikap
nasionalisme, cinta produk sendiri (produk-produk Indonesia dan lain-lain),
bahasa dalam forum formal, bahasa dalam kegiatan belajar mengajar, dan lain
sebagainya.
Melihat dari
berbagai fungsi di atas, maka Bahasa Indonesia perlu untuk dipelajari. Bahkan
dari SD hingga perguruan tinggi, pelajaran dan kuliah bahasa Indonesia
masih diberikan. Hal ini penting untuk mengenalkan dan melatih para siswa agar
dapat menggunakan bahasa Indonesia dengan benar.
Dalam maraknya
era globalisasi masa kemajuan informatika dan komunikasi setiap individu
dituntut untuk menyumbangkan karya kreativitasnya dan menuangkannya dalam
bentuk tulisan. Terutama bagi kalangan mahasiswa yang dituntut untuk selalu
berkarya baik berbentuk tulis maupun non tulisan. Akan tetapi dalam dunia tulis
menulis di kalangan mahsasiswa, masih banyak kerancuan-kerancuan yang
menyimpang dari kaidahnya dalam tulisan-tuliasan. Apa lagi budaya menulis yang
sesuai kaidah EYD sudah mulai terlupakan akibat dari kemajuan tekhnologi dan
informatika yang bersifat instan. Selain itu gairah tulis menulis telah
mengalami penurunan, sehingga tidak heran dalam kalangan mahasiswa lebih
menyukai copy paste dari karya orang ataupun membeli karya orang yang diaku
sebagai karyanya.
Padahal
dengan kemajuan tekhnologi dan informatika, membuka lahan yang seluas-luasnya
bagi manusia untuk terus berkarya dan menuangkannya segala bentuk
kreativitasnya, terutama dalam bentuk tulisan. Misalnya dalam dunia internet
tersedia berbagai informasi yang dapat menambah pengetahuan dan wawasan serta
wadah yang siap menampung segala kreativitas dan uneg-uneg
manusia yang berupa tulisan seperti situs blog maupun jejaring social. Akan
tetapi kebanyakan mahasiswa Indonesia masih mengenyampingkannya dan belum dapat
menggunakannya secara maksimal sebagai media mempublik karya.
Gairah tulis
menulis bagi mahasiswa Indonesia masih tergolong rendah. Dan adapun
tulisan-tulisan yang dikaryakannya pun masih mengalami kerancuan bahasa yang
menyimpang dari kaidah EYD. Untuk itulah perlu adanya mata kuliah bahasa
Indonesia bagi mahasiswa.
Akan tetapi sudah tentunya mahasiswa
yang telah melewati jenjang SD hingga SMA telah menerima pelajaran bahasa
Indonesia dari A sampai Z. Dan apakah di perguruan tinggi ini hanya mengulangi
materi yang teah disampaikan layaknya di sekolah-sekolah? Berdasarkan
pengamatan yang telah dilakukan, pada umumnya dosen mengajarkan kembali
materi mata kuliah sebagai mana yang telah disampaikan para guru bahasa
Indonesia di SD hingga SMA. Para dosen
kembali mengajarkan Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia, Pedoman Umum Ejaan
yang Disempurnakan, dan Pedoman Umum Pembentukan Istilah. Tidak jarang
mahasiswa diperlakukan seperti mahasiswa Jurusan Bahasa Indonesia di Fakultas
Sastra dan Bahasa. Seolah-olah mereka dididik menjadi calon ahli bahasa atau
calon sarjana Bahasa Indonesia. Oleh karena materi yang sama telah mereka
peroleh sebelumnya, maka banyak mahasiswa baru yang mengikuti kuliah Bahasa
Indonesia dengan setengah hati atau merasa sangat terpaksa, demi nilai atau
indeks prestasi belaka. Sehingga tidak diherankan jika mahasiswa mengalami
kejenuhan dalam belajar bahasa Indonesia. Akan tetapi apakah para mahasiswa
telah mampu berbahasa Indonesia dengan baik dan benar, baik yang berupa tuliasan
maupun lisan? Banyak riset yang memaparkan sebagaimana yang disampaikan oleh S.
Sahala Tua Saragih dalam tulisannya “mahasiswa dan bahasai Indonesia” bahwa
sebagian besar mahasiswa belum mampu menggunakan bahasa Indonesia secara lisan
maupun tulisan dengan baik dan benar.
Untuk itu,
mahasiswa non bahasa perlu dilatih secara intensif berbahasa Indonesia dengan
baik dan benar. Dan hal tersebut sudah menjadi konskuensi para dosen, baik
dosen pengampu bahasa Indonesia maupun yang lain. Artinya, setiap dosen baik
pengampu mata kuliah bahasa Indonesia maupun yang lain harus mampu mendidik
para mahasiswa berbahasa Indonesia dengan baik dan benar dalam konteks ilmu
atau program studi masing-masing. Dengan kata lain, setiap dosen harus mampu
menjadi dosen Bahasa Indonesia. Selain itu para mahasiswa pun perlu mendapatkan
pelatihan jurnalistik maupun berkarya ilmiah serta mendapatkan wadah untuk
berkreasi mengeluarkan segala kreativitasnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar